Penanganan Covid 19 di Jawa Barat Terjebak Diantara Dua Pilihan

Minggu, 29-03-2020 19:04 WIB    50 VIEWS
Penanganan Covid 19 di Jawa Barat Terjebak Diantara Dua Pilihan

Oleh Ilham Fauzie.S.Pd

(Fungsionaris Pengurus Besar HMI periode 2018-2020/Putra Daerah Jawa Barat)

Patut kita fahami terlebih dahulu bahwa Penyakit Coronavirus 2019 ( COVID-19 ) adalah penyakit menular yang telah menjadi pandemic ini disebabkan oleh sindrom pernapasan akut coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 2019 di Wuhan , ibukota provinsi Hubei China, dan sejak itu menyebar secara global (data real time, Coronavirus COVID-19 Global Cases by the CSSE at Johns Hopkins University, tercatat ada 662.073 kasus dan 139.426 Sembuh di 200 Negara). Menurut World Health Organization (WHO), pandemi dinyatakan ketika penyakit baru menyebar di seluruh dunia melampaui batas. Virus corona (Covid-19) baru merebak sejak tanggal 2 maret 2020 ini di Indonesia dimulai dari 2 orang WNI usai melakukan kontak dengan seorang WNA asal Negara Jepang yang juga dinyatakan positif virus ini. Namun seiring percepatan, dalam jangka waktu kurang dari 30 hari dampaknya begitu cepat memukul berbagai sudut ekonomi. Dari mulai rupiah terperosok sampai ke mendekati 17 ribu/dollar, ekonomi Makro Seperti Industri Tekstil, Industri Transportasi dan percepatan pembangunan Infrastruktur Nasional, serta Ekonomi Kecil dan Menengah (UMKM) untuk daerah terjangkit pandemic pun banyak yang terhambat bahkan untuk UMKM sudah banyak yang gulung tikar, terkhusus di Daerah Pulau Jawa .

Di Jawa Barat Sendiri  ada beberapa daerah yang ditandai dengan tanda merah pada peta penyebaran Covid-19. Daerah tersebut mulai dari Bekasi, Depok, Bogor, Bandung Raya hingga Kota Cirebon.  Dari situs pantau Covid-19 Pemprov Jabar, angka kematian akibat virus corona juga bertambah tiga hingga menjadi 17 orang. Sementara itu total orang sembuh enam orang. Pada kategori orang dalam pemantauan (ODP), total berjumlah 5.419, dengan rincian 1.515 selesai pemantauan dan 3.904 masih dalam proses. Sedangkan jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) mencapai total 664 orang. Sebanyak 147 di antaranya selesai pengawasan dan 517 masih dalam pengawasan., sementara 6 orang lainnya meninggal. (data pertanggal 28 Maret 2020)

 

 

Terguncangnya Ekonomi Makro sampai Mikro Di Jawa Barat

Pada penyebaran Covid-19 tersebut tentunya harus menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, terutama pada sektor ekonomi makro dan mikro di Jawa Barat. Kedua sektor ini tentunya berpengaruh pada berkurangnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), pemberhentian lapangan kerja secara masif, mayoritas Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) gulung tikar, terhambatnya pembangunan infrastruktur. Inilah beberapa point yang akan menyebabkan terhambatnya aktivitas ekonomi dari dua sektor tersebut effect dari pandemi ini di Jawa Barat yang harus segera ditangani secara strategis oleh Pemerintah Jawa Barat baik pasca maupun dalam proses berjalannya penyebaran Covid 19 di Indonesia.  

 

Ekonomi makro menjadi sektor pertama yang akan sangat berdampak oleh pandemi ini, dikarenakan sektor ini melibatkan banyak unsur dalam aktivitas ekonominya baik dalam segi ketenaga kerjaan, investor, produksi dan distribusi, serta PAD Provinsi Jawa Barat yang tentunya jikalau terjadi collapse akan mengorbankan banyak orang yang terdampak pasca pandemi Covid 19 . Karena itulah sektor ekonomi makro harus menjadi perhatian khusus, teliti, cepat dan tepat dalam  penanganan dan kebijakannya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Disamping itu, Covid-19 juga sangat berdampak pada sektor pariwisata. Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa wisatawan asal China mencapai 2.07 juta orang pada tahun 2019 yang mencakup 12.8 persen dari total wisatawan asing sepanjang 2019. Dalam hal ini pula Penyebaran Covid-19 menyebabkan wisatawan yang berkunjung ke Indonesia akan berkurang. Sepinya wisatawan juga berdampak pada restoran atau rumah makan yang sebagian besar konsumennya adalah para wisatawan. Melemahnya pariwisata juga berdampak pada industri riil (ekonomi UMKM).

 

Terlebih yang kita ketahui bahwasanya di Jawa Barat itu sendiri banyak pekerja buruh pabrik maupun pelaku usaha dalam industri tekstil, food, industri kreatif dan industri riil. Sehingga dalam fenomena terjadinya penyebaran Covid-19 ini, menjadi guncangan bagi pelaku usaha industri riil baik dalam marketing maupun distribusinya. Dalam analisa diatas tentunya pemerintah Provinsi Jawa Barat harus senantiasa bergerak dengan cepat serta tepat dalam menyelamatkan dampak yang terjadi akibat penyebaran Covid-19.