PSBB JILID 3 KOTA BANDUNG, BERDAMPAKKAH?

Selasa, 19-05-2020 20:11 WIB    118 VIEWS
PSBB JILID 3 KOTA BANDUNG, BERDAMPAKKAH?

PSBB Kota Bandung resmi berlanjut ke jilid 3 mulai tanggal 20 - 29 Mei 2020. Banyak pro dan kontra yang mewarnai sebelum PSBB resmi diperpanjang. Antara jeritan hati rakyat yang keberatan dan kegalauan Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung melihat jilid 1 dan 2 yang belum menunjukkan perkembangan sesuai tujuan. Kasus positif yang diharapkan akan melandai, nyatanya tidak.

Di sisi lain, banyak warga yang semakin kebingungan. Untuk para Usaha Kecil dan Menengah, PSBB jilid 3 akan terasa semakin memberatkan. Warung kopi, pedagang makanan, pekerja kreatif dan para ojek online. Waktu menunggu dirasa semakin panjang untuk usaha dapat kembali berjalan normal. PSBB sudah membekukan waktu dan usaha dalam mencari nafkah. Apalagi saat ini menjelang Idul Fitri. Memang tidak sepenuhnya berhenti dan masih dapat berjalan,  tetapi dampaknya cukup membuat mereka meronta.

Pertanyaan lainnya pun mulai bermunculan. Jika PSBB jilid 1 dan 2 tidak mencapai tujuan, mengapa malah diperpanjang?

Sementara masyarakat pun mulai jenuh dengan hal ini. Baik dari segi ekonomi, sosial maupun keagamaan. Mall mulai kembali ramai meskipun jam buka dibatasi. Penjual di beberapa lokasi mulai ramai dengan pelanggan yang makan di tempat. Ironis sekali, larangan untuk makan di tempat ini nyatanya tidak berjalan. Sementara mesjid disorot terus supaya tidak ada pelaksanaan kegiatan ibadah di mesjid.

Lalu, ini salah siapa? Apakah penjualnya? Atau pembelinya? Apakah pemerintahnya? Atau warganya?

Nampaknya warga sudah jenuh menjadi “tahanan rumah”. Butuh udara segar sesekali. Butuh pemandangan lain dari rumah, meskipun hanya jalan dan lalu lalang kendaraan. Sebagian dari mereka berpikir, “sesekali keluar untuk refreshing tidak apa dibanding frustasi karena di rumah saja”.

Apakah warga tidak takut dengan virus mematikan bernama corona?

Takut pasti ada, tetapi nampaknya ada rasa lain yang mengalahkan rasa takut. Rasa itu bernama jenuh. Bernama lain bosan. Rasa itulah yang akhirnya membuat warga mati rasa dengan takutnya menghadapi corona. Terlebih dikarenakan tidak ada yang mengetahui kapan berakhirnya. Ditambah dengan ramalan akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Mereka pun lebih memilih menjadi “realistis” dengan memikirkan efek jangka pendek. Mengatasi kejenuhan.

Tak menampik fakta, salah satu faktor yang andil menarik minat pembeli yang  mengalami kejenuhan adalah dapat makan di tempat. Penjual yang menyediakan tempat pun mengetahui dan membaca kebutuhan pembeli mereka. Jika penjualan sepi dan tak dapat mengcover kebutuhan sehari-hari, pasti akan sulit bagi mereka. Untuk itulah, mau tak mau sebagian dari mereka melakukan ini.

Fakta lainnya adalah menjelang Idul Fitri, warga sudah siap-siap untuk merayakannya dan melaksanakan shalat Idul Fitri berjama’ah, fatwa MUI sudah jelas, kewajiban pemerintah lah untuk menetapkan apakah suatu daerah itu termasuk zona merah atau bukan. Untuk itulah, pemerintah harus membuka data sampai ke tingkat RW, supaya warga bisa memastikan apakah bisa melaksanakan shalat Ied di mesjid/lapangan atau di rumah.

Semuanya terasa abu-abu sampai saat ini. Terasa membingungkan. Bukan hanya warga, pemerintah pun juga kebingungan. Bila pemerintah sudah kebingungan, bagaimana dengan warganya? Rasanya semua energi sudah terkuras oleh corona satu ini. Ketakutan ekonomi, kesehatan, sosial dan keagamaan. Corona seperti dementor yang memunculkan kekhawatiran pada setiap orang yang memikirkannya.

Sampai dari setiap kita yang lelah pun bertanya, "PSBB EFEKTIF KAH? LALU, APA SOLUSINYA?"

Bandung, 19 Mei 2020

Wassalam,

FADLULLAH RUSYAD, ST.
(Ketua DPC Partai Bulan Bintang Kota Bandung)