Indikasi Konglomerasi dari Desain Produk yang Salah ada di Sekitar Kita

Selasa, 06-05-2014 14:40 WIB    1204 VIEWS
Indikasi Konglomerasi dari Desain Produk yang Salah ada di Sekitar Kita

Fenomena Benda ciptaan manusia di sekeliling kita

Fenomena kemajuan teknologi, hasil sekaligus pencetus peradaban manusia saat ini merupakan suatu ranah yang menarik untuk diamati, khususnya menyoal benda-benda yang dekat sekali dengan keseharian dimana manusia itu hidup bermasyarakat. Pengamatan terhadap benda-benda ini merupakan kegiatan sederhana namun banyak sekali manfaatnya, apalagi jika hasil pengamatan tersebut dituangkan dalam suatu tulisan, bagan dan pemaparan yang baik agar dapat tersampaikan secara baik dan jelas kepada publik.

Hasil dari pengamatan tersebut juga merupakan kunci bagi para profesional untuk menindaklanjuti atau meneruskan persoalan yang ada yang nantinya akan dipaparkan dalam pewacanaan baik di akademisi ataupun dalam aktivitas masyarakat secara umumnya, sehingga akan berdampak pada pembangunan sumber daya manusia dan lingkungan yang baik pula.

Pewacanaan nantinya selalu menghasilkan dua opini bahkan lebih dan beragam, namun keragaman itu justru adalah media yang ampuh dalam merekonstruksi suatu persoalan ataupun mereposisi suatu ketidakjelasan persoalan untuk selanjutnya dapat diklarifikasi.

Kegiatan untuk mencari dan menemukan pengetahuan ini jika berdasarkan pada perkembangannya merupakan suatu proses yang mengutamakan kaidah-kaidah kebendaan sebagai tolak ukurnya. Seorang pengamat haruslah mengetahui suatu persoalan dengan mengamati serta mendokumentasikan hal-hal yang terlihat menjadi bukti sesuatu hal yang menjadi gagasan tentang dirinya, dan ini merupakan karakter dari tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan itu sendiri.

Di dalam prosesinya, objektifitas merupakan suatu kesimpulan akan adanya pembuktian dan fakta akan suatu persoalan, sehingga membutuhkan komponen-komponen pendukung seperti layaknya sebuah laboratorium yang diperuntukan khusus untuk ilmu pengetahuan tertentu ataupun inkubator sebagai sarana yang menjembatani antara hasil IPTEKS dengan kebutuhan masyarakat. 

Mengenai persoalan kebutuhan masyarakat dan kebendaan disekitarnya memang menjadi persoalan penting yang ditilik dalam pengamatan ini, dikarenakan fenomena itu adalah suatu medan skematika yang bersifat ekuivalen terhadap perluasan dan perkembangan industri dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya akan suatu alat atau hasil produksi. Kebendaan atau hal-hal buatan manusia yang diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan berbagai aspek merupakan suatu upaya untuk menjadikan hidup ini lebih baik.

Prosesi itu sudah lama dilakukan dan sangat purba. Segi positif dari perlakuan itu memang sudah menjadi urusan yang dianggap selesai karena memang ditujukan demi kepentingan manusia baik dalam hal pertahanan, keberlangsungan ataupun aktualisasi.  

Namun disini kita bisa melihat apa yang selanjutnya terjadi. Benda disekeliling kita semakin banyak menumpuk dengan berbagai varian, kita bisa merasakan benda-benda ciptaan saat ini bukan saja untuk memenuhi tiga konsepsi diatas lagi melainkan sudah jauh melampaui dari apa yang menjadi visi dasarnya. Benda-benda itu sudah menguasai kita secara langsung. Benda-benda itu yang mengarahkan pola sosialitas kita, bahkan mengatur kebutuhan kita sendiri.

Memang pada akhirnya kita melirik pasar sebagai instrumen yang bertanggung jawab terhadap persoalan ini dan cenderung mengabaikan produsen karena fungsi mereka bukanlah suatu portal sosial yang langsung berhubungan dengan masyarakat. Keadaan ini mengkhawatirkan, karena justru persoalan sesungguhnya terdapat pada sumber utama produksi yaitu dalam hal desain produksi dan penyimpangan psikis akan ideologi kapitalisme yang kita anut selama ini.

Ideologi merupakan sumber dari segala fenomena sejarah

Sebelum kita mengetahui persoalan benda, kiranya terlebih dahulu layak mempertanyakan apakah itu kapitalisme? Sedikitnya kita akan mengenal nama-nama seperti Ayn Rand yang menulis dalam buku Capitalism (1970) yang menyebutkan tiga asumsi dasar kapitalisme, yaitu: (a) kebebasan individu, (b) kepentingan diri (selfishness), dan (c) pasar. Rand menolak keras kolektivisme, altruisme, mistisisme. Konsep dasar bebas Rand merupakan aplikasi sosial dan pandangan epistemologisnya yang natural mekanistik. Pemikiran Rand terpengaruh oleh gagasan "the invisible hand" dari Smith "...free marker forces is allowed to balance equitably the distribution of wealth" (Robert Lerner, 1988). Pasar bebas dilihat oleh Rand sebagai proses yang senantiasa berkembang dan selalu menuntut yang terbaik atau paling rasional.

Sedangkan, Heilbroner (1991) menelaah secara mendalam pengertian hakiki dari kapital. Menurut Heilbroner, kapital adalah faktor yang menggerakkan suatu proses transformasi berlanjut atas kapital-sebagai-uang menjadi kapital-sebagai-komoditi, diikuti oleh suatu transformasi dari kapital-sebagai-komoditi menjadi kapital-sebagai uang yang bertambah. Inilah rumusan M-C-M (Money-Commodity-Money) yang diperkenalkan Karl Marx.  Dalam pertukaran M-C-M tersebut uang bukan lagi alat tukar, tetapi sebagai komoditas itu sendiri dan menjadi tujuan dari pertukaran.

Dalam bahasa Abraham Maslow, dorongan mengakumulasi kekayaan yang tidak puas-puas ini merupakan manifestasi aktualisasi diri. Namun, Heilbroner beranggapan bahwa kebutuhan afektif ini hanyalah suatu kondisi yang perlu (necessary condition) belum menjadi syarat cukup (sufficient condition) untuk disebut sebagai dorongan mengejar kekayaan. Dengan demikian, hakikat kapitalisme menurut Heilbroner, adalah dorongan tiada henti dan tanpa puas untuk mengakumulasi kapital sebagai sublimasi dorongan bawah sadar manusia untuk merealisasi diri, mendominasi, berkuasa. Karena dorongan ini berakar pada jati diri manusia, maka kapitalisme lebih merupakan salah satu modus eksistensi manusia. Mungkin inilah sebabnya mengapa kapitalisme mampu bertahan dan malah menjadi hegemoni peradaban global.

Dalam penjelasan sederhana diatas, apa yang menjadi konsepsi dasar hidup manusia telah dispesifikan menjadi suatu pola keberlangsungan hidup yang berorientasi pada segmentasi yang khusus. Artinya, area-area keberlangsungan hidup itu memang ditentukan oleh adanya persaingan, rasionalitas materil, eksploitasi dan cita-cita kebebasan. Jauh sebelum ini sudah banyak tanggapan terhadap munculnya kapitalisme global, seperti Kapitalisme Spiritual yang di dengungkan oleh Max Weber (abad 19) atas analisa historisnya antara abad 16-19. Menurut Max Weber kapitalisme merupakan faham yang baik yang mampu mensejahterakan manusia. Menurut teorinya, kapitalisme berawal dari etika protestan yang mengajarkan untuk hidup berhemat, rajin bekerja, disipilin dalam mengejar keduniawian sebagai bentuk pemujaan terjadap Tuhan.

Kaitan antar etika protestan dan spirit kapitalisme versi Weber, menurutnya sebagai berikut :

  • Kapitalisme bisa memenuhi kepentingan ekonomi manusia dan bukan sekedar kepentingan diri karena kepentingan manusia berhubungan dengan kepentingan agama
  • Kalvinisme atau protestan membekali seorang kapitalis untuk bekerja lebih giat penuh semangat, rajin bekerja, disiplin dalam mengejar keduniawian , dll
  • Kalvinisme melegitimasi ketimpangan sistem stratifikasi dengan memberikan kapitalis “jaminan rasa nyaman” yang artinya siapa yang kaya maka rasionya ia telah mendapatkan kebebasan di dunia

Namun teori ini dibantah oleh Marx dimana dalam teori perjuangan kelas terbagi menjadi dua golongan yaitu kelas borjuis (pemilik modal) dan kelas proletar (buruh). Menurutnya kaum proletar sangatlah dirugikan dalam segala hal oleh kaum borjuis. Tidak lain karena disebabkan oleh kapitalisme. Marx menganggap tindakan borjuis semata-semata hanya ingin meraih keuntungan yang sebanyak-banyaknya karena prinsip kapitalisme yaitu menumpuk uang, dari uang menjadi uang, sehingga terjadilah eksploitasi berskala besar dan masif dan kaum proletar lah yang menjadi sasaranya.

Pemaparan singkat tentang drama ideologi diatas cukup mewakili keadaan kita saat ini sehingga dari situ kita bisa langsung mempertanyakan apa hubungannya dengan benda-benda yang sedang menumpuk disekeliling kita?.

Kenyataannya, bahwa saat ini kita hidup dalam situasi kebebasan, kapitalisme merupakan tata cara kita dalam bersosialisasi sama halnya dengan komunisme ataupun fatwa agama. Hal itu semua merupakan pedoman yang menjadi pilihan kita dalam mengarungi realitas global. 

Saat ini, mungkin sikap saling merendahkan, mendeskriditkan, berupaya menghancurkan suatu pilihan-pilihan hidup manusia sangatlah tidak relevan karena justru kita sedang dihadapkan bukan saja oleh tata cara ini melainkan juga soal keberlangsungan hidup manusia yang lebih mandiri dan bebas. Sehingga saya kira, justru yang menjadi problem bukanlah lagi persoalan ideologinya namun hasil dari ideologi-ideologi tersebut, khususnya menyoal benda-benda hasil produksi yang ada disekeliling kita. Inilah persoalan yang nyata, dimana jika produksi menjadi “out of control” maka lingkungan akan terganggu, manusia akan kehilangan orientasi karena pengaruh kebendaan ini, lebih jauh lagi keberlangsungan hidup manusia akan semakin pendek karena faktor pencemaran lingkungan yang terus menerus. Maka dalam pandangan ini kiranya sejarah dapat menjadi alat stategis menciptakan solusi kedepan.

Fakta Sejarah dipenuhi oleh Asumsi kriteria Produksi Membahayakan

Melihat secara umum sejarah peradaban manusia, bahwa artefak merupakan landasan dari pembacaan sejarah. Maka rumusan fakta haruslah berdasarkan pada soal ini. Benda-benda ciptaan manusia awalnya merupakan konsep teknologi yang tujuannya merupakan visi mulia yaitu mensejahterakan kehidupan.  Seiring kemajuan peradaban maka benda-benda ini semakin bervariasi karena sistem produksi haruslah seimbang dengan kondisi pasar. Artinya, presentase konsumen dan barang haruslah sesuai. Dari sini kita bisa melihat adanya celah kritis, bahwa diluar hal itu sedang terjadi masalah lain yang jauh lebih besar, adanya “lack of demand dan lack of quality” yang berarti suatu permintaan pasar dan distribusi barang menjadi overload tidak seimbang, bukan lagi berkutat dalam persoalan presentase jumlah penjual dan pembeli yang menjadi subjek pasar.

Pengamatan sejarah benda-benda ini merupakan alat ampuh dalam menyelidiki sejauh mana daya rusak produksi manusia yang secara umum dapat kita bedakan menurut zamannya. Tentunya kita sepakat bahwa zaman dimana manusia mengalami ledakan sosial dalam revolusi industri merupakan cikal bakal dari daya rusak ini. Kita dapat melihat dengan gamblang jika mencoba membandingkan hasil pengamatan per dekade dari persoalan produksi, bahwa kualitas produksi manusia dari masa-ke masa telah mengalami penurunan dengan asumsi variasi produksi yang melewati batas kuota atau melebihi faktor demand. Misal pengguna handphone tertarik dan berharap memiliki barang bermerk dengan kualitas yang baik, namun faktanya produksi handphone itu sendiri lebih banyak daripada kebutuhan masyarakat akan kualitas ini dengan adanya indikator berbagai macam varian dan barang berkualitas rendah memenuhi pasaran dengan melegalkan isu persaingan.

Sama halnya dengan produksi otomotif dimana jumlah kendaraan dalam negeri mengalami peningkatan yang berlebih setiap tahunnya terlepas dimana produksi itu dilakukan, sehingga memunculkan masalah-masalah transportasi dan efisiensi yang dulunya justru dirancang untuk menyelesaikan masalah itu. Hal ini merupakan kendala saat ini untuk di masa depan khususnya dalam perumusan kehidupan sosial masyarakat di suatu daerah atau kota yang mencita-citakan kesejahteraan dan cita-cita lingkungan bersahaja. Problem-problem ini telah membuktikan bahwa kriteria produksi memang tidak bisa di cegah selama pasar bersifat bebas dan justru mendorong agar pasar lebih terdominasi oleh varian itu ketimbang berpihak pada produk yang berkualitas baik dan ramah lingkungan.

Ada apa dengan kriteria produksi ini sehingga visi dari konsep teknologi yang awal tujuannya adalah untuk kesejahteraan berbalik arah menjadi kontra lingkungan dan anti sosial?. Apakah desainer produk kita yang patut disalahkan atau pebisnis yang bertanggung jawab atas keadaan itu ? saya kira, kerumitan ini patut diluruskan secara lebih bertahap dan memasyarakat.

Sekilas tentang Produk salah dalam pandangan masyarakat dan pemerhati lingkungan

Untuk memahami maksud dari pemaparan konsep ini, banyak sekali contoh barang yang dapat kita ambil sebagai bahan kajian, tapi disini akan dibatasi menurut efisiensi tulisan. kiranya perlu diambil contoh yang umum yang dapat kita kenali langsung di pasaran. Bahkan contoh terkecil pun seperti korek bensin seharga Rp.2000 merupakan produk salah yang mampu membuat perusahaan pembuatnya menjadi konglomerat. Korek bensin seharga kira-kira Rp.2000 ini adalah subjek kajian yang menarik untuk di paparkan. Secara umum korek bensin ini paling banyak kita jumpai dipasaran, diwarung-warung pinggir jalan, di pedagang asongan bahkan di mini market. Korek bensin ini memiliki desain yang unik karena terbuat dari plastik, bersifat sekali pakai buang, tidak dirancang untuk bisa dipakai berulang-ulang karena tidak ada tempat refilnya.

Jika kita lihat menurut rasio industry akan desain jenis ini maka kita akan dihadapkan pada prediksi keuntungan yang mampu diraih oleh sebuah perusahaan pembuatnya. Misal satu paket korek bensin berjumlah 20 buah seharga 2000/ satuannya laku habis dijual dalam tempo 7 hari. Kapasitas energi bensin yang dapat digunakan bisa sampai 1 bulan jika sering digunakan. Maka kira-kira perusahaan tersebut akan terus memproduksi korek bensin itu setimpal dengan kebutuhan masyarakat pengguna secara bulanan dengan menambah rasio produksi 2 s/d 3 x lipatnya, dengan asumsi bahwa produk tersebut akan terus mengalami ekspansi pasar yang lebih luas. Dari rasio kecukupan produksi terhadap masyarakat penggunannya saja perusahaan sudah mendapatkan untung berkala ditambah dengan rasio ekspansi sebagai pola spekulasi bisnis yang dirancang untuk mendongkrak untung menjadi berkali lipatnya. Inilah pola industri yang menekankan desain salah demi mengejar untung tanpa perlu memperhatikan aspek pendidikan sosial dan pemeliharaan lingkungan karena desain tersebut memang tidak dirancang untuk itu.

Desain-desain salah seperti contoh diatas merupakan suatu kesatuan kosmik dengan apa yang dapat kita sebut dengan kemajuan zaman. Dalam arti, suatu kemajuan zaman memang memiliki ekses-ekses yang menjadi ciri dari adanya kebaruan dan perubahan terus menerus baik itu bersifat negative ataupun positif. Hal demikian menjadikan fakta sejarah kali ini memang sudah menjadi lumrah dengan konsepsi ideologinya.

Sekilas tentang Produk salah dalam pandangan industri

Namun disini kita bisa berpendapat lain, justru desain yang baik adalah yang mampu menciptakan keuntungan yang besar bagi industri. Suatu desain dituntut untuk memiliki segmentasi pasar seluas-luasnya tanpa perlu mengaitkan dirinya dengan idealisme tertentu yang nantinya justru akan menghambat tujuan ini.

Desain yang benar yaitu minimal memiliki tujuan mencerdaskan masyarakat dan ramah lingkungan belum tentu menjadi desain unggulan sebuah perusahaan jika dalam perkiraan profitnya lebih kecil. Contohnya; jika saya membuat korek bensin seharga Rp.2000 tersebut memiliki tempat refil dan lengkap dengan petunjuk pemakaiannya secara detil maka otomatis produksi akan lamban dan harus menambah partisi produksi lain yang memakan biaya jauh lebih besar lagi seperti menyediakan bahan isi ulangnya sekaligus spare partnya. Tentunya jika saya seorang pebisnis, saya tidak akan mau repot dengan persoalan demikian.

Terdapat hal menarik disini, bahwa seorang pebisnis yang mempraktekan pola-pola desain yang salah ini  meskipun dirinya dapat menarik untung yang besar, namun akan memiliki ikatan yang kuat dengan suatu pola daya rusak yang terus menerus dan berkelanjutan. Mungkin seorang pebisnis ini tidak bisa lagi keluar melepaskan ketergantungannya akan bahan-bahan produksi yang dipakainya karena telah menjadi suatu jaringan yang saling mengikat kuat. Dilain pihak, keuntungan dari hasil produksinya jika menjadi salah satu unsur dari visi perbaikan masyarakat maka, secara normatife akan terkesan janggal.

Dari sekian banyak asumsi terhadap fenomena ini, saya kira akhirnya masyarakat di hadapkan hanya pada dua pilihan yang menentukan nasibnya sendiri. Apakah akan menjadi konsumen yang pintar dan idealis atau menjadi konsumen yang acuh dan apatis?

Dany K. Gunawan

Kritikus & Dosen Seni Rupa