Ini Tarif Baru Parkir di Bandung

Rabu, 19-04-2017 05:27 WIB    259 VIEWS
Ini Tarif Baru Parkir di Bandung

WARTABANDUNG.COM: DINAS Perhubungan (Dishub) Kota Bandung akan menerapkan tarif parkir baru, mulai 1 Mei mendatang. Pemberlakuan tarif baru ini berbarengan dengan penerapan kartu parkir elektronik. "Mulai 1 Mei 2017 diberlakukan. Kenaikan tarif parkir ini dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi," ujar Kepala Dishub Kota Bandung, Didi Ruswandi, di Balai Kota, Jln. Wastukancana, Selasa (18/4/2017).

Tarif baru ini dibagi dalam tiga zona yakni pusat, peyangga dan pinggiran. Untuk zona pusat tarif mobil yang dikenakan Rp 3.000 jam pertama dan berikutnya Rp 2000/jam. Sementara motor Rp 2.000 untuk jam pertama dan Rp 1.000 untuk tiap jam berikutnya. "Yang masuk zona pusat adalah jalan-jalan di tengah atau pusat kota, seperti jalan Braga, Merdeka dan lainnya," ujarnya. Sementara zona peyangga seperti Jln. Laswi, Lingkar Selatan dan jalan yang berada di antara pusat dan pinggiran kota, tarif parkir yang dikenakan untuk mobil Rp 2.500 pada jam pertama dan Rp 2.000 untuk tiap jam berikutnya.

Sedangkan motor Rp 1.500 pada jam pertama dan Rp 1.000 untuk jam berikutnya. "Untuk zona pinggiran mobil Rp 2.000 untuk setiap jamnya dan motor Rp 1.000 per jamnya. Tarif ini merupakan alat untuk membebaskan parkir di badan jalan, jadi seharusnya tarif yang di badan jalan lebih mahal dari pada yang digedung," ungkapnya. Diakuinya, saat ini gedung parkir yang disediakan pemerintah masih minim. Bahkan ia berharap ada pihak swasta yang menjadi investor untuk gedung-gedung parkir tersebut. "Memang seharusnya ketika tarif parkir di bahu jalan naik, maka fasilitas gedung parkir ditingkatkan," harapnya. Meski begitu, Dishub pun kini mulai menertibkan parkir di bahu jalan dengan menerapkan mesin parkir.

Saat ini, sudah ada 445 mesin parkir yang tersebar di Kota Bandung. Mesin ini nantinya hanya bisa menggunakan kartu parkir elektronik. Bahkan kedepan, diharapkan semua parkir bahu jalan wajib melakukan transasksi non tunai sehingga bila ada yang masih menggunakan uang tunai bisa dikategorikan ilegal. Namun untuk saat ini, hal itu belum bisa diterapkan. "Mesin parkir minggu depan bisa digunakan. Namun untuk tahap pertama, kartu akan dipegang jukir, jadi bayarnya ke jukir dulu. Setelah ada kerja sama dengan bank, nanti langsung menggunakan kartu sendiri," ungkapnya. Meski membayar retribusi parkir pada juru parkir, pengguna kendaraan akan mendapatkan struk sebagai tanda parkir kendaraan.

"Harus minta struknya ke jukir, dan transaksi itu juga langsung tercatat," katanya sambil menambahkan Jukir mulai digaji sebesar Rp 1,8 juta/bulan dengan waktu kerja 8 jam/hari. Menurut Didi, kenaikan tarif parkir ini juga dibarengi dengan kenaikan target retribusi dari sektor parkir. Tahun lalu, retribusi parkir yang tercapai sebesar Rp 5 miliar. Sementara tahun ini Dishub ditargetkan meraih retribusi parkir sebesar Rp 135 miliar. Melihat angka itu, Didi pun pesimistis target tersebut bisa tercapai. Karena berdasarkan kajian, bila mesin poarkir diterapkan maka retribusi yang bisa diraih sekitar Rp 50 miliar. "Paling juga kita bisa mencapai target sebesar Rp 50 miliar. Itu juga jika mesin parkir sudah diberlakukan," terangnya.