WARTABANDUNG.COM: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan penanganan kejadian bencana yang terjadi di Jawa Barat pada periode 12 Januari, pukul 07.00 WIB, hingga 13 Februari 2026, pukul 07.00 WIB.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menuturkan, sebanyak 600 jiwa terdampak banjir yang terjadi di Kecamatan Majalaya, Kabupaten bandung pada Kamis (12/2) pukul 01.25 WIB.
“Banjir terjadi di Desa Bojong, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, pada Kamis (12/2), pukul 1.25 WIB. Sebanyak 280 KK atau 600 jiwa terdampak,” kata Muhari melalui keterangan tertulis.
Muhari menambahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung telah mengerahkan personel untuk melakukan pendataan dan evakuasi masyarakat terdampak.
“Tak berlangsung lama, banjir surut di hari yang sama, akses jalan utama telah dapat dilalui sementara listrik di area terdampak kembali menyala, masyarakat kembali ke rumah untuk melakukan pembersihan sisa banjir,” jelasnya.
Sehari sebelumnya, Rabu (11/2), seorang waga Desa Parung, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, dilaporkan hanyut terbawa arus banjir di daerah itu.
“Kejadian banjir juga dilaporkan BPBD Kabupaten Subang. Dipicu hujan deras hingga Sungai Ciasem meluap dan merendam sawah milik warga,” kata Muhari.
“Satu warga Desa Parung, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat diduga hanyut terbawa arus saat pulang dari sawah pada Rabu (11/2), pukul 17.00 WIB,” tambahnya.
Ia menuturkan, hingga Kamis (12/2), upaya pencarian korban masih terus dilakukan dengan melibatkan tim SAR gabungan dari TNI, Polri, Damkar hingga relawan.
Selain korban jiwa, petugas mencatat kerugian sementara 10 hektar persawahan warga terdampak akibat banjir.
Di hari yang sama, banjir juga terjadi di Desa Cisaat, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan. Banjir dipicu curah hujan tinggi hingga menyebabkan Sungai Cijurey meluap dan merendam pemukiman warga.
“Tercatat 50 rumah terdampak banjir. Kondisi mutakhir, Kamis (12/2) luapan air sungai telah surut namun masih meninggalkan sisa lumpur. Dibantu aparat desa, masyarakat melakukan pembersihan material lumpur secara mandiri,” lanjut Muhari. (*)














